“Aku tak mengerti apa yang ku rasa, rindu yang
tak pernah begitu hebatnya..
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu, meski
kau takkan pernah tahu..”
Dua bait lagu yang akhir-akhir ini sangat aku
sukai. Atau bisa dibilang bait-bait tersebut sedang menggambarkan hatiku. Maybe.
Mungkin rasa sayang ini benar-benar sudah
tertanam kuat di hatiku. Dan hal ini baru pertama kalinya. Ya, aku memang
terlalu takut untuk jatuh cinta, takut sakit hati, takut nantinya bisa merusak
semangat hidupku & merusak masa depanku. Tetapi, hanya kepadanya lah hati
ini bisa luluh. Bisa merasakan kesejukan, kenyamanan, dan kebahagiaan.
Dia memang tidak ganteng secara fisik,
tetapi hatinya begitu ganteng. Hal itulah yang kemudian lambat laun
membuatku bisa menoleh dan mendekatinya, padahal dia sudah cukup lama menunggu
kedatanganku.
Perkenalan yang tidak disangka-sangka itu
terjadi di akhir tahun 2010, hingga akhir tahun 2012 kemarin rasa sayang itu
mulai tumbuh di dalam hatinya. Tetapi kala itu, aku sangat menolak dengan
hadirnya perasaan yang tidak pernah aku sukai itu. Bagaimana mungkin sahabatku
sendiri bisa menyukaiku?
Penolakan tersebut justru membuat hatinya
kembali terluka untuk yang kedua kalinya. Sungguh begitu munafiknya aku saat
itu. Aku tak memerdulikan keadaan hatinya. Seorang sahabat seharusnya
memberikan support penuh kepada sahabatnya, tapi apa? Aku malah
memberikan masalah besar kepadanya. Sahabat macam apa aku ini? Aku benar-benar
tidak pantas menjadi sahabatnya.
Mendekati akhir tahun 2013, hati ini mulai luluh
dan terbuka atas seluruh perhatian yang dia berikan. Bagaimana tidak? Hampir
setiap hari dia mengeluarkan kata-kata gombal kepadaku, memberikan
perhatian lebih hingga terkadang aku geleng-geleng sendiri atas sikapnya itu.
Saat itu pula, aku berniat untuk pasrah, pasrah sepasrahnya. Menyerahkan hati
ini secara suka rela kepadanya.
Sejak saat itu, aku merasa hidup ini begitu indah
dengan berbagai warna yang dia berikan
kepadaku. Aku bahagia, aku senang, aku lebih ceria, aku lebih semangat lagi.
Serasa mendapat setrum penyemangat. J
Hari berganti hari, rasa ini semakin subur saja.
Ketika kerinduan datang menyergap, aku tak bisa berhenti membayangkannya.
Tetapi rindu itu terkadang menyiksaku, dan aku tak bisa berbuat apa-apa.
Biarkan saja, lama-lama kerinduan itu juga akan berkurang dengan sendirinya.
Just say, “imissyou”. No more.
Aku takut jika nantinya aku tidak bisa
menjaganya, karena hal ini adalah pengalaman pertamaku. Aku belum mengenal
karakterku sepenuhnya, terutama tentang asmara. Aku takut hatiku akan goyah
dengan laki-laki di luar sana. Tetapi aku yakin, insyaallah aku bisa setia pada
satu hati. Aku akan berusaha untuk menjaga perasaan ini untuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar