Welcome to My Blogger

Welcome to My Blogger. Enjot it!

Sabtu, 13 September 2014

Keluarga Ketigaku, Kemirikebo


Keluarga ini mulai aku bangun sejak tanggal 14 Juli 2014, bertepatan dengan dimulainya KKN UIN Sunan Kalijaga Angkatan 83. Sebelumnya, aku dan teman2 kelompokku ditujukan ke daerah Panggang, Gunungkidul, tapi tak tahu kenapa beberapa hari sebelum pemberangkatan kami dipindahkan ke Kemirikebo, Girikerto, Turi, Sleman. Awalnya kami cukup kecewa dengan pemindahan tempat tersebut, karena sebelumnya kami sudah mempersiapkan beberapa strategi ketika kami sudah tinggal di sana. Selain itu, kami juga mendapat sedikit desas-desus kalau di daerah Turi ada banyak anjing dan pohon salak. Nah, banyak yang bilang kalau di pohon salak itu tempat berkumpulnya makhluk dunia lain. Ulalaaaaa,, sudah pasti aku agak merinding juga lahh. Tapi tak apa, pasti ada hikmah di balik itu semua.
Pengabdian ke Dusun Kemirikebo pun dimulai.
Melalui kegiatan ini, aku dipertemukan dengan beberapa teman baruku yang berjumlah 7 orang. Dari itu semua aku tidak mengenal 1 orang pun, yang ada hanya wajah2 baru. Yang pertama, Siti Lathifah, asalnya Cilacap, dia  lucu, baik, cerdas, kalau ngomong ceplas-ceplos, kadang-kadang malesan, galak, mikiran, putih, tapi agak gemuk. Hehehe. Yang ke-2, Siti Khozamah, bu bendahara kita, asalnya dari Ciamis, ngapak gitu deh. Orangnya tinggi, baik, manis, kurus, dan sering telfonan sm pacarnya. Huh, marai iri wae. Yang ke-3, Putri Rahmayani, ini cewek blesteran, Padang-Bali, tapi tinggalnya di deket Pondok Krapyak. Tante galak ini tinggi, cantik, itemnya elegan, dan badannya berisi banget. Hahaha. Kmudian yang ke-4, Mas Wasis Purbo Waseso. Kenapa aku panggil mas? soalnya dia angkatan tahun 2010. Masnya baik banget, pendiam, dewasa, agak item. Hehehe. Oya, asalnya dari Pulau Bangka. Teman KKN yang ke-5, Aziz Nur Rohman berasal dari Magetan, Jawa Timur. Orangnya sih baik, tapi gak tegaan, jadi kurang gregetnya, hahaha. Selama KKN tubuhnya tambah subur, gendut broo. Sukses tenan KKN e. Selamat pak ketua! Teman yang ke-6, Nur Fatimah Ummahatul Azizah, cewek ini blesteran juga, Lampung-Magelang-Jambi. Orangnya cantik, manja tapi fikirannya dewasa, kalau dilihat-lihat kayaknya dia itu lebih pendek dari aku, tapi setelah dibuktikan dia lebih tinggi 1cm dari aku. Aihh, aku tertipu. Teman gue yang ke-7 adalah Risahlan Rafsanjani, dia satu fakultas sama aku. Cowok ini berasal dari Nusa Tenggara Timur, ya item manis gitu, tapi tanggung jawabnya lumayan gede juga. Acungan 1 jempol buat dia dahh. J
Hari demi hari, hubungan kita semakin membaik. Terdapat beberapa kecocokan di antara kami. Ada banyak peristiwa yang sudah kami alami, salah satunya keberadaan alam gaib. Dulu sebelum KKN, aku belum mempercayai sepenuhnya mahkluk2 gaib (hantu, jin, iblis) tetapi melalui kegiatan kampus ini, aku dipaksa untuk percaya akan hal-hal seperti itu. Dari ke-7 temanku, ada 2 orang yang dapat melihat makhluk2 seperti itu, dan yang 1 hanya bisa merasakan. Melalui mereka lah, aku bisa mempercayainya. Dan ada 1 pihak lagi di Panti Asuhan Asy-Syafi’iyah, yaitu bapak Imam Syafi’i, beliau adalah pengasuh panti dan pondok itu.
Beberapa hari menjelang lebaran, ada kejadian yang membuatku cukup takut. Salah satu temanku di ru’yah oleh pak Imam, maka saat itu pula aku mulai mempercayai hal-hal gaib seperti itu. Aku tidak perlu menceritakan bagaimana kejadian detailnya, yang pasti cukup mengerikan juga. Alhamdulillah, aku tidak diberi kesempatan bisa melihat makhluk2 gaib itu, karena ketika aku sudah mengetahui seperti apa bentuknya, mungkin aku akan ketakutan setiap saat. Hehehe
Kemudian, ada 1 hal lagi yang aku takutkan ketika berada di Kemirikebo, yaitu anjing. Hahaha mungkin kalian akan tertawa kenapa aku bisa takut sama anjing. Saat itu, aku sedang memberi makan buat bebek tetangga, ada anjing di depanku. Aku bingung harus bagaimana. Secara spontan, aku langsung memanggil mas wasis.
“Mass Wasiiiiisssss, maaasss,,, mas wasiiiisssss,,” yang dipanggil mas wasis, ee yang keluar malah latifah, mungkin dia penasaran kenapa suaraku begitu keras dan ketakutan. Tepi beberapa detik kemudian, mas wasis ikut keluar melihat keadaanku. Mereka berdua bingung,
“piee miiii, ono opoo? “
“hehehehee,, iki mass,, ono anjing”
“hahahaahahahaaaa” secara spontan mereka pun tertawa. Dan setelah itu, anjingnya pergi.
Aku tak tahu kenapa aku bisa begitu takut dengan anjing. Padahal dulu aku liat anjing biasa aja.
Selain mereka berdua, ada 1 orang lagi yang mengetahui ketakutanku. Terima kasih atas bantuannya :*:*
Oh iya, aku lupa menceritakan bapak-ibu induk semang kita. Alhamdulillah sekali, di dusun ini kami mendapat kesempatan bisa mengenal keluarga Bapak Poniman dan Ibu Fitri. Mereka sangat baik kepada kami. Rizkinya juga sangat lancar, karena shadaqah mereka juga sangat lancar. Bahkan, kami sampai bingung harus membalas dengan cara apa atas semua kebaikan yang telah mereka berikan kepada kami. Kami akan sangat merindukan mereka, apalagi kepada anak-anaknya, Novita yang cantik, baik dan dewasa, serta kepada Keisya yang ganteng, lucu, cakep, gemesin, cool, dan imut2. I miss you all. :*
Hubungan kami dengan keluarga bapak Poniman berbanding terbalik dengan masyarakat. Pada bulan pertama, hubungan dengan masyarakat masih seperti orang asing, kami hanya menyapa sekedarnya saja ketika bertemu dengan warga. Sungguh sangat mengenaskan. Mengenai hal itu, kami mendapat wejangan dari salah satu warga di dusun itu, kalau warga Kemirikebo itu “susah-susah gampang”. Malam itu, kami benar2 tertampar dengan beberapa komentar dari mbaknya, tetapi kami juga diberi masukan supaya kami bisa mendapatkan hati masyarakat. Ya, memang salah besar ketika kami lebih mementingkan program daripada hubungan sosialisasi dengan warga sekitar. Seharusnya kami harus mendapatkan hati warga dulu, sehingga ketika kami mau mengadakan program2, warga akan menyambut dengan bahagia. Tetapi tak apa, msih ada waktu untuk memperbaiki itu semua. Masih ada waktu seminggu untuk mendapatkan hati warga Kemirikebo. Maka setelah malam penuh penyesalan itu, kami memanfaatkan waktu seminggu yang tersisa untuk mendapatkan hati msyarakat. Alhamdulillah, kami berhassil. Saat perpisahan KKN kemarin tanggal 07 September 2014, banyak warga yang datang dan antusias dengan acara kami,. Bahkan pemuda yang dulunya sangat membenci kami, kini mereka menyambut kami dengan baik.
Tiba saatnya ketika kami harus berjabat tangan dengan warga2 Kemirikebo. Suasana malam itu sangat mengharukan. Tanpa skenario, air mata kami mengiringi sungkem2 kami kepada warga. Air mata kesedihan, karena kami harus berpisah dengan ibu-ibu, pemuda-pemudi, bapak-bapak Kemirikebo serta berpisah dengan teman2 KKN. Air mata bahagia, karena kami masih diberi kesempatan untuk bisa berkumpul dan berjabat tangan serta minta maaf dengan mereka semua. Air mata penyesalan, kenapa kami baru bisa dekat dengan mereka di minggu terakhir kami mengabdi. Sungguh, kami sangat senang bisa dekat dengan mereka semua tanpa adanya rasa dendam diantara kami. Aku akan sangat merindukan warga Kemirikebo. Kalian adalah keluarga ketigaku setelah keluarga di rumah dan keluarga di pondok. Semoga hubungan silaturrahim kami dengan warga di sana masih dapat terjalin kuat. Dan Kami masih diberi kesempatan untuk datang berkunjung ke warga2 sana. Amiiinn
Tetapi ada satu hal yang sangat mengganjal di hati. Mayoritas masyarakat menilai kalau ending dari KKN ini sangat bagus, tetapi sebenarnya hubungan intern kami cukup mengenaskan. -_-
Semoga KKN berikutnya, tidak akan mengalami kejadian yang sama. Amiinn

Tiba saatnya, saya kembali ke habitat asal, kembali ke Kota Jogja. Polusi - panas – keramaian. Suasana ini sangat bertolak belakang dengan suasana di Dusun Kemirikebo, 8 km dari puncak Merapi. Tandanya, aku harus beradabtasi lagi. Fighting! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar