Yogyakarta, Februari 2013
Jalan
naik turun gunung sudah menjadi pemandangan biasa bagi penduduk Patuk,
Gunungkidul. Sembilan belas tahun yang lalu, bayi lucu & imut berhasil
dilahirkan oleh seorang wanita yang bernama Rofi’ah di kecamatan tersebut. Dia membesarkan bayi itu bersama suaminya,
Sumari Ahmad Zaini, dengan penuh kasih sayang dan kedisiplinan. Senyum &
tawa sang bayi membuat mereka sangat bahagia, bahkan ketika bayi itu ngompol mereka hanya tersenyum melihat
tingkah anak mereka yang semakin hari semakin menggemaskan. Bayi perempuan itu
diberi nama Rahmi Arsih. Namun jauh sebelum itu tepatnya dua belas tahun yang
lalu, sang ibu sudah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Rosyid
Ahmadi. Lima tahun kemudian, bayi laki-laki mungil lahir lagi dari rahim sang
ibu yang kemudian diberi nama Nahru Riyadi. Dua insan tersebut membesarkan
anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang, kedisiplinan dan kehormatan. Mereka
tidak pernah pilih kasih terhadap anak-anaknya, semua mendapatkan kasih sayang yang sama satu sama
lain, bahkan kepada anak bungsu mereka sekalipun.
Anak
pertama mereka, Rasyid Ahmadi, lahir pada tanggal 03 Juni 1982. Dia adalah anak
yang berbakti kepada orang tuanya dan melakukan perannya sebagai kakak dengan
sangat baik. Menyayangi, menjaga dan mengasihi sang adik dengan penuh
keikhlasan. Pendidikan yang pernah ia tempuh adalah TK Masyitoh, MI Ngembes, MTs Jam’ul Muawanah,
dan SMKN Wonosari. Sejak lulus SMK di
Wonosari, Rasyid memutuskan untuk langsung terjun ke dunia kerja, padahal sang
ayah menawarinya agar melanjutkan kuliah namun ia tetap teguh pada
pendiriannya. Lewat dunia kerja, Rasyid sudah keliling kota bahkan terbang
antar pulau. Ia sudah pernah bekerja di Jakarta, Papua, Kalimantan, Semarang,
dan saat ini masih di Palembang (Sumatera) untuk menyalurkan bakatnya di dunia
kerja khususnya dalam bidang arsitek. Memang salah satu cita-citanya ialah bisa
keliling dunia, dan saat ini ia masih mengejar cita-citanya. J. Namun ada satu hal yang membuat keluarga kecil
tersebut cemas, kapankah Rasyid akan menikah? Karena sampai saat ini Rasyid
belum melaksanakan sunnah Rasulullah tersebut. Sang ayah-ibu pun merasa
khawatir, sudah saatnya Rasyid menikah dan mereka dapat segera menimang cucu.
Do’a selalu mereka lantunkan agar Rasyid segera menemukan jodohnya. Amin Ya
Robbal ‘alamin. Sang adik pun juga ikut mendoakan kakak mereka.
Setelah
kelahiran anak pertama, anak kedua pun tak kalah untuk lahir juga dalam Rahim
sang ibu, tepatnya tanggal 05 Agustus 1987. Bayi laki-laki itu diberi nama
Nahru Riyadi. Tetapi karena Nahru sering sakit-sakitan maka Sumari dan Rofi’ah
berinisiatif untuk mengubah nama belakang anak tersebut menjadi Nahru Syamsi.
Pendidikan formal yang pernah ia tempuh ialah TK Masyitoh, MI Ngembes, dan MTs Jam’ul
Muawanah. Setelah lulus dari MTs tersebut, ia sudah bertekad bulat untuk
bertholabul ‘ilmi di pendidikan non-formal, yakni Asrama Perguruan Islam
Tegalrejo, Magelang. Disana ia belajar agama lebih mendalam yang lebih berfokus
kepada Kitab-kitab. Setelah delapan tahun nyantri
disana, Nahru sowan kepada
Kyai-nya, bahwa ia ingin mengganti namanya menjadi lebih baik & bermakna.
Alhasil, Ahmad ‘Abdurrouf menjadi nama pilihan terakhirnya, yang kemudian dipanggil Rouf. Setelah sepuluh tahun
nyantri di API Tegalrejo, akhirnya
Rouf telah menyelesaikan ngajinya sampai kelas terakhir. Tetapi sampai saat ini
ia masih ngaji dan mengabdi di ndalem
Pengasuh API. Rouf ialah sosok anak yang penyayang, lemah lembut, cerdas,
qana’ah, hemat, berbakti kepada kedua orang tua, dan menjadi sosok kakak yang
selalu mengajari adiknya kebaikan.
Dan anak
mereka yang terakhir, Rahmi Arsih, lahir pada hari Rabu Wage, 24 Februari 1994.
Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa menjadi anak terakhir itu dimanja, apalagi
kalau anak tersebut adalah perempuan sudah pasti akan dimanja. Namun,
persangkaan itu tidak dialami oleh Rahmi. Dulu, ketika masih kecil dia selalu
membantu orang tuanya di sawah, ladang, dan di rumah. Ketika masih kecil, dia
suka membantu bercocok tanam atau panen di sawah, menanam jagung dan kacang di
ladang orang tuanya, ikut mencari rumput di sawah. Semua itu ia lakukan dengan
bahagia, karena keluarganya berlatar belakang petani. Jadi pada zaman itu,
teman-teman Rahmi juga banyak yang ikut orang tuanya pergi ke sawah. Padahal,
sawah yang mereka miliki itu cukup jauh, kurang lebih 2,5 km ditempuh dengan
berjalan kaki. Namun, jarak tersebut tidak pernah menyurutkan semangat mereka
pergi ke sawah. Mereka sudah terbiasa dengan kegiatan mereka sehari-hari.
Jenjang
pendidikan yang pernah Rahmi tempuh ialah TK Masyitoh, SD Pengkok, Mts Jam’ul
Mu’awanah, MA Nurul Ummah Ketika Rahmi sudah lulus dari MTs Jam’ul Mu’awanah,
ia disuruh simbahnya untuk melanjutkan sekolah di daerah Kotagede. Alhasil,
Sumari dan Rofi’ah pun menyetujui saran simbah-nya
itu. Pada tanggal 16 Juni 2011, Rahmi berangkat ke Kotagede dengan diantar oleh
Sumari, Rasyid, dan simbahnya sendiri. Di pondok itu Rahmi dapat menempuh
pendidikan non-formal sekaligus, yakni di Pondok Pesantren Nurul Ummah.
Awalnya, ia masih belum kerasan, tapi lama kelamaan akhirnya ia dapat
menikmati dunia barunya. Di lingkungan yang baru itu, Rahmi mendapatkan banyak
teman, ilmu, pengalaman, kesetiaan, dan lain-lain. Disana pula, ia dapat
mengenal HANETHER (Happy Nelongso Together), guru di MA Nurul Ummah (MANU), dan
teman-teman pondok lainnya.
Matahari
sudah memancarkan sinar emasnya, dan Para santri yang tinggal di komplek ‘Aisyah
sedang sibuk-sibuknya nderes di
masjid dan kamar masing-masing. Pagi itu, Rahmi teringat dengan keinginannya
dulu. Setelah lulus dari MANU, ia mempunyai niat untuk mempelajari Al-Qur’an
lebih mendalam, yakni dengan memahami, menghafalkan dan mengamalkannya. Namun sampai saat ini, niat itu masih belum
ia laksanakan, ia merasa takut ketika suatu saat tidak bisa menjaganya dengan
baik. Kegelisahan pun sering ia rasakan, setiap hari ia bercengkerama dengan
santri hafidzah itu dan ketika itu
juga timbul keinginannya untuk segera melaksanakan niat tersebut. Hikmah dari
seorang hafidzah ialah anak tersebut
dapat mengangkat derajat kedua orang tuanya. Rahmi pun harus memperbaharui
niatnya dan memantapkan hatinya. J
By : Myuth
Tidak ada komentar:
Posting Komentar