Ketika berumur 5 tahun, aku sudah dimasukkan
dalam dunia pendidikan, yakni TK Masyitoh di Ngembes. Cukup satu tahun aku
berada dalam ruangan yang penuh dengan mainan, buku gambar, pastel, dan
tempelan beberapa poster di dinding. Setelah itu, orang tuaku memutuskan agar
aku melanjutkan Sekolah Dasar di SD Pengkok II, yang kemudian SD tersebut
digabung dengan SD Pengkok I dan namanya diganti menjadi SD Pengkok. Di sana
aku mengenal banyak teman. Setelah lulus SD, aku melanjutkan pendidikan di MTs
Jam’ul Mu’awanah. Memang di sekolah itu muridnya sedikit sekali, tetapi
hubungan kekluargaan antara teman-teman dan guru terjalin sangat erat, sehingga
terkadang aku merindukan mereka semua. Tiga tahun sudah aku menyelesaikan
pendidikan Tingkat Pertama, dan Alhamdulillah lulus dengan peringkat pertama. J Sungguh, suatu kehormatan dan kebahagiaan
tersendiri aku dapat membuat orang tuaku bangga dan tidak mengecewakan mereka.
Namun setelah kelulusan, timbullah kebimbangan, kemanakah aku akan melanjutkan
sekolah? MA Nurul Ummah (MANU) atau SMK Budhi Dharma? Simbahku, K.H. Damiri,
menuyuruh orang tuaku agar aku disekolahkan di MANU-Kotagede, karena disana aku
bisa mendapatkan pendidikan non-formal juga, tepatnya di Pondok Pesantren Nurul
Ummah. Tetapi saat itu, aku berkeinginan melanjutkan ke SMK Budhi
Dharma-Piyungan, karena selain tak jauh dari rumah disana pula aku mempunyai
sahabat. Dan suatu hari, simbahku datang ke rumahku untuk menyerahkan formulir
pendaftaran MANU, dan saat itu pula aku di rumah sendirian, jadi aku gak bisa
berbuat apa-apa, kecuali menuruti perintah simbahku.
Tepat tanggal 16 Juni 2008 ba’da ashar, aku
diantar oleh ayah, simbah dan kakak pertamaku ke PP Nurul Ummah. Sepanjang
perjalanan aku hanya menangis karena masih belum siap berpisah dengan kedua
orangtuaku. Awal-awal di pondok, aku merasa sedih dan setiap pagi di lantai 3
Masjid Al-Faruq air asin dari kedua mataku terus mengalir, masih belum kerasan juga. Tetapi setelah beberapa
bulan, aku merasa bangga bisa disekolahkan disana. Aku mengenal banyak teman,
baik di sekolah maupun di pondok, guru-guru yang baik, ustadzah yang ramah dan
baik hati. Disana pula, aku memperoleh persahabatan yang cukup erat dan sampai
saat ini selalu aku rindukan. HANETHER, di situlah aku bisa mengenal kalian lebih
dekat, melihat senyum dan tawa indah kalian, mendengar cerita-cerita dan
banyolan yang keluar dari bibir indah kalian. Itu semua tidak akan pernah aku
lupakan selamanya. Persahabatan yang semakin dekat dan erat ketika kita sudah
menginjak kelas Tiga Aliyah. Setiap hari kita bertemu, baik di sekolah maupun
di pondok, LES siang dan malam dilakukan agar kita bisa lulus bersama-sama.
Tanggal 04 Januari 2011, aku tidak berangkat
sekolah karena aku disuruh pulang olehorang tuaku supaya bisa ikut rekreasi ke
Pantai Baron & Kukup dalam rangka merayakan New Year bersama keluarga besar
dari pihak Ayah. Saat di Pantai Kukup, aku mendapatkan pesan singkat yang
membuat hatiku tersentak kaget. “Nduk,
sebenernya aku dijodohkan sama kamu”. Pesan dari seorang laki-laki yang
sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri, Nasrul Ikhwan. Dia adalah oom
angkatku, anak angkatnya simbahku, K.H. Damiri. Saat membaca SMS itu, sontak
hatiku sangat terkejut, sampai-sampai aku gak berani membalas SMS tersebut
dimana sebelumnya dia sempat tanya hal-hal aneh tentang perjodohan. Saat itu
pula, aku ingin curhat kepada sahabat-sahabatku di Nurul Ummah (Nurma), tetapi
teman-temanku tidak membawa HP, jadi dengan terpaksa aku harus tunda niat itu.
Setelah kejadian itu, aku dan oomku sering banget
sms-an, hanya untuk membahas perjodohan itu. Dia menceritakan semuanya, bahwa
perjodohan itu sudah direncanakan sejak aku baru masuk di MTs Jam’ul Mu’awanah.
Pantas saja, simbahku sangat berkeinginan agar aku bisa sekolah di Kotagede.
Setelah aku kembali kepondok, tepatnya ba’da maghrib tiba-tiba tangisku pecah
di kamar, teringat akan perjodohan itu. Kemudian sahabatku pun, Nisa dan Mahna,
datang menemuiku dan menghiburku. Tetapi,
rasanya susah sekali menghentikan air mata itu. Paginya setelah bangun tidur
mataku bengkak. Di sekolah pula tangisku pecah lagi. Sungguh saat itu aku
sangat sedih.
Awalnya oomku menuruti permintaan simbahku, yang
berarti dia menyetujui perjodohan itu, tapi sungguh aku tidak mau menikah
dengan orang yang sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Beberapa
hari setelahnya oomku berubah fikiran, ia mengatakan kalau dia tidak mau
dijodohkan dan dia juga mengirim message di Facebook.
"nduk, aku benar2 gak kuat ngadepin ini semua. aku berharap kamu segera ngomong ke bapak-ibumu segera datang kerumahku utk menolak perjodohan itu"
"pleasee nduk, aku gak bisa nikah dengan orang yang sudah aku anggap sebagai adekku sendiri. kamu juga gak mau kan nikah dengan orang yang sudah kamu anggap sbgai kakakmu sendiri?"
"walalupun, kita ini gak ada hubungan darah, tetapi aku gak bisa melakukan semua ini. aku harap kamu segera memutuskannya".
Saat membaca pesan itu, hatiku sangat
teriris-iris, aku gak kuat mengahadapi cobaan ini. Tanpa ku sangka air mata
megalir lagi di pipiku. Bahkan setelah itu, dia menyuruhku agar aku mengaku
sudah punya pacar dan begitu juga dengan dia. Selain itu, setelah lulus dari
Aliyah aku disuruh nikah dengan laki-laki lain. Seketika emosiku meluap.
Memangnya aku cewek apaan, setelah lulus Aliyah disuruh langsung nikah, aku
masih punya banyak impian yang belum aku wujudkan. Aku masih pengen kuliah.
Pikirku saat itu.
Di saat menjelang Ujian Nasional, aku malah
mendapatkan cobaan begitu berat. “Ya Allah, berilah hamba kekuatan dan
ketabahan atas cobaan-Mu ini”. Do’a yang selalu aku panjatkan kepada Tuhanku.
Untuk membantu menyelesaikan masalah ini, aku
berniat untuk meminta bantuan kepada Mbah To, dia adalah tetanggaku yang pernah
nyantri di API-Tegalrejo. Dan secara
kebetulan, oomku juga meminta bantuan kepada Mbah To. Aku gak nyangka dia juga
cerita kepada Mbah To. Atas kebesaran hatinya, Mbah To memberikan solusi supaya
kita berdua membaca hadiah Al-Fatihah kepada kedua orang tua kami dan membaca
Al-Fatihah sebanyak 100x setiap harinya. Amalan itu pun kita lakukan dengan
baik bahkan setiap do’a yang kupanjatkan ku sertakan agar hati kedua orang tua
kami terbuka dan sadar bahwa kami tidak saling mencintai.
Ujian Nasional, Ujian Madrasah, dan Ujian Praktek
sudah kulalui dengan baik, masalah yang biasanya selalu kutangisi aku lupakan
sejenak. Tiba saatnya untuk pulang, keringanan liburan bagi kelas Tiga Aliyah
setelah menyelesaikan beberapa Ujian. Pagi itu di depan TV, ibuku mengatakan
secara jujur bahwa aku benar-benar dijodohkan.
“Nduk,
sebenere sampean ki wis dijodohke karo lek iwan”, Kata ibuku saat itu. Sontak hatiku terkejut dan
air mata langsung mengalir deras mendengar hal itu. Setahun yang lalu, beliau
juga pernah mengatakan bahwa aku dijodohkan, tetapi masih belum jelas siapa
orangnya. Dan hari itu juga, ibuku memperjelas pernyataannya setahun yang lalu.
Aku gak bisa berkata apa-apa, hanya suara isak tangis yang keluar dari bibirku.
“piye
nduk, gelem ora?”, tanya ibuku
selanjutnya. Secara spontan kepalaku langsung menggeleng dan tangisan masih
menyertaiku.
“mboten
mak, kulo mboten purun”. Akhirnya aku pun menjawab pertanyaan ibu dengan
bahasa kromo. Sejak menjadi santri aku memutuskan untuk selalu bicara kepada
kedua orang tuaku dengan bahasa kromo alus.
“yowes nek
ra gelem, engko tak omongke karo bapak”.
“bapak karo
mamak ki manut karo sampean, nek sampean ra gelem yo gak popo. Sing jalani
rumah tangga kan yo sampean dewe”.
Mendengar pengendikane
ibu, hatiku cukup tenang, Beliau tidak memaksakan kehendak mereka. Dan aku
yakin, saat itu ibuku tidak tega melihat air mataku mengalir begitu derasnya
tanpa henti yang disertai sesenggukan. Kemudian, ibuku menceritakan kalau
rencana perjodohan itu dibuat sejak aku masuk sekolah Tingkat Pertama, bahkan
sebagai imbalannya aku akan dikuliahkan di Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga oleh simbahku. Aku gak nyangka simbahku akan setega itu sama aku.
Namun untuk mengantisipasinya, orang tuaku sendiri yang akan membiayai kuliah
S1 ku, agar kita tidak terlalu tergantung dan berhutang budi kepada simbahku.
Selain itu, motif perjodohan ini supaya harta kekayaan simbahku tetap
jatuh/mengalir ke saudaranya sendiri, untuk itu aku dijodohkan dengan anak
angkatnya. Ibuku juga mengatakan bahwa alasan mengapa aku baru dikasih tahu
tentang perjodohan ini adalah supaya tidak mengganggu belajarku menghadapi
Ujian Nasional. Apabila ibuku memberitahu masalah ini sebelum UN, sudah pasti
belajar di sekolah maupun di pondok akan terganggu.
Setelah kejadian di depan TV itu, ayah dan ibuku
saling berdiskusi, bagaimana caranya membatalkan perjodohanitu. Disamping itu,
oomku juga mendesakku agar orang tuaku segera datang menemui simbahku dan
mengetakan bahwa mereka ingin perjodohan itu batal. Sering sekali oomku
mengirim sms desakan itu, dia sudah tidak kuat apabila dia didesak
terus-menerus oleh simbahku, dia sudah tidak kuat menghadapi ayah angkatnya.
Hingga suatu hari, kedua orang tuaku datang
menemui simbahku yang bertujuan untuk membatalkan perjodohan itu. Awalnya simbahku
masih keras kepala, tetapi setelah beberapa hari akhirnya pintu hari simbahku
terbuka dan sadar bahwa aku dan oomku tidak menginginkan perjodohan ini.
Alhamdulillah, sungguh sangat senang hati ini, hingga sulit untuk digambarkan
bagaimana perasaanku saat itu. Do’a yang selama ini kupanjatkan dikabulkan juga
oleh Allah SWT. Terima kasih, Rabb. J
Pengumuman kelulusan sudah selesai dan
pendaftaran masuk Perguruan Tinggi sudah dibuka. Kedua orang tuaku tetap
membiayai kuliahku dengan keringat mereka sendiri. Singkat kata, akhirnya aku
diterima di UIN Sunan Kalijaga jurusan Mu’ammalat.
Dua bulan kemudian.
Ayahku diminta menjadi wali oomku untuk melamar
calon istrinya, mbak Nur Jannah dari Wonosari. Dia cantik, baik hati, ramah,
sholehah dan lemah lembut. Sangat serasi dengan oomku yang ganteng, cerdas,
pandai, sholeh, baik hati, dan yang pasti suami idaman laahh. Beberapa minggu
kemudian, tepatnya tanggal 30 Oktober 2011, oomku melangsungkan pernikahan
dengan mbak Jannah. Aku sengaja pulang ke rumah agar aku bisa ikut membantu
pernikahan mereka. Menghadiri hari paling bersejarah bagi mereka berdua. Pada
hari itu, aku menjadi penerima tamu dan laden.
Ketika jam menunjukkan pukul 14.30 WIB, pengantin pria dan wanita datang ke
rumah pengantin pria. Musik khas jawa pun berbunyi untuk menyambut kedatangan
sang pengantin. Aku sangat terharu melihat kebahagiaan itu, dan sesaat muncul
kata-kata di benakku, Kapan aku akan
berdiri disitu? Bersama siapa aku akan melabuhkan hati ini? Namun, hal itu
tidak terlalu aku fikirkan, teringat usiaku saat itu masih berumur 17 tahun.
Sore itu, aku juga sempat foto bersama kedua pengantin, dengan posisi aku
berada di samping mbak Nur Jannah dan di samping oomku adalah tetangganya.
Aku yakin, hari itu menjadi hal yang paling
bersejarah bagi kedua pengantin tersebut, terutama oomku. Setelah melalui
cobaan yang begitu berat akhirnya dia menemukan jalan kebahagiaannya. Senyum
kebahagiaannya yang tidak pernah aku lihat selama ini.
“Selamat
menempuh hidup baru Lik, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah,
warrahmah dan segera dikaruniai dedek kecil”, do’a ku saat itu.
Sepuluh bulan kemudian, tepatnya bulan Agustus,
mbak Jannah melahirkan seorang bayi laki-laki yang ganteng, seperti ayah dan ibunya.
Saking gantengnya aku jadi lupa siapa nama anaknya. Hehe. Terakhir bertemu
dengan mereka pada bulan September 2012 kemarin, ketika simbahku, K.H. Damiri
menemui ajalnya. Seluruh keluarga besar, masyarakat serta teman seperjuangannya
turut berduka atas kepergian beliau. Innalillahi wainna illahi raji’un.
Terakhir beliau menghembuskan nafas pada tanggal 21 September 2012 pukul 05.40
pagi di Rumah Sakit Sardjito. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya dan
digabungkan dengan para wali-wali Allah. Amin.
Dengan kepergian ayah angkatnya, oomku diberikan
amanat untuk menggantikan kedudukan beliau dalam mengemban tugas-tugasnya, baik
di dalam keluarga maupun di masyarakat, salah satu amanatnya ialah mengurus dan
melestarikan Mushola Miftahurraziqin. Semoga dengan kepergian simbah K.H.
Damiri, S.Ag., tidak akan menyurutkan semangat masyarakat untuk belajar dan ngaji. Amiin..
Yogyakarta, 16 Februari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar