Adzan maghrib sudah berkumandang, adzan isya’ sudah berkumandang, lampu
dan pintu masjid pun sudah ditutup. Maka, aku langsung berpindah ke kursi depan
toko barbershop.
Satu jam berlalu…
Dengan posisi duduk bersila dan memangku ransel yang aku bawa, aku
masih tetap menunggunya.
Merasa bosan, aku pun berinisiatif untuk mendengarkan radio di HP. Mencari
music yang enak untuk didengarkan.
Dua jam sudah berlalu…
Tiba-tiba air mataku keluar. Ah, aku juga tak tahu kenapa bisa
keluar. Mungkin aku takut sendirian, takut dia tidak bisa menemuiku di tempat
asing itu. Atau aku terlalu lelah menunggu. Berbagai fikiran negative sudah
menggelayuti otakku.
Aku tak tahu bagaimana nasibku jika dia tidak menjemputku. Duduk
termenung layaknya orang yang kehilangan arah jalan pulang.
Pukul 20.15
Dia datang dengan senyumnya yang merekah. Senyum yang mengandung
makna bahagia dan lega, karena seseorang yang disayanginya baik-baik saja.
Alhamdulillah... masa “menunggu” itu sudah berakhir.
Menunggu adalah suatu pekerjaan yang tidak menguras tenaga, tapi
menguras hati dan fikiran kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar