Welcome to My Blogger

Welcome to My Blogger. Enjot it!

Selasa, 19 November 2013

Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah


Setiap manusia mendambakan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, namun menciptakan keluarga seperti ini tidak semudah membalikkan tangan. Sangat sulit dan berat. Untuk menciptakan keluarga sakina, mawaddah wa rahmah harus mengikutsertakan peran orang tua, walaupun yang paling inti adalah peran dua pasangan yang sedang menjalaninya.
Dua sejoli yang sedang mengarungi bahtera rumah tangga harus mempunyai komitmen untuk mengukuhkan ikatan tersebut, serta menghindari hal-hal yang dapat meretakkannya. Ada beberapa langkah yang harus selalu mereka pegang, di antaranya yaitu :
1.      Saling mengerti dan memahami
2.      Saling percaya
3.      Saling setia
4.      Saling menghormati
5.      Saling mengingatkan, jika terjadi hal-hal yang kurang baik
6.      Menjaga ketaatan kepada Allah SWT.
7.      Memberikan kebutuhan biologis sewajarnya
8.      Menerima apa adanya
9.      Selaras dalam pemikiran, tujuan dan keinginan
10.  Jika terjadi masalah, maka dimusyawarahkan bersama secara dewasa
11.  Meminta izin jika hendak melakukan sesuatu
12.  Tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal yang kurang prinsip
13.  Seorang istri harus berbahasa halus kepada suami, dan sebaliknya.
Dan yang terakhir (hal ini sering tidak diperhatikan) adalah : “Jangan menceritakan aib atau hal-hal yang kurang baik”. Misalnya seorang suami bernama Roni pernah pacaran dengan Yanti. Jangan sampai diceritakan kepada pasangannya. Wallahu a’lam.

(Sumber : Ada Apa dengan Cinta)

Ketika Seseorang Mengatakan “Aku Mencintaimu”


Ketika seseorang menyatakan “Aku Mencintaimu”,
Ia tidak menuntut tetapi memberi.
Mencintai adalah suatu keputusan yang berat
Bukan berat bila ia harus berkorban seluruh hidupnya.

Ketika seseorang mengatakan “Aku Mencintaimu”,
Itu sama saja dengan mengatakan bahwa :
Aku akan melindungimu..
Aku akan menjagamu..
Aku akan memperhatikanmu..
Aku akan merawatmu..
Aku akan bekerja sekuat tenaga agar engkau dapat hidup layak..
Aku akan membahagiakanmu seumur hidupmu..

Mencintai bukan hanya perasaan suka,
bukan hanya ketertarikan simpati, apalagi emosi sesaat.
Karena mencintai adalah memberi sepanjang waktu
yang hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berkepribadian tangguh.
Maka dari itu berhati-hatilah ketika mengucapkan “Aku Mencintaimu”,
Karena ada tanggung jawab dan kepercayaan yang harus dibuktikan.
Dan pembuktian itu adalah proses tumbuhnya kepercayaan itu sendiri.
Pembuktian bahwa engkau siap untuk  memberi, berkorban,
merawat dan melidungi orang yang engkau cintai.
Dan ketika semua tidak terbukti,
Maka lenyaplah sudah kepercayaan orang yang engkau cintai kepadamu.

Tidak ada cinta tanpa kepercayaan.
Suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya,
Seseorang kehilangan kepercayaan kepada sahabatnya,
Rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya,
Dan seorang anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya.
Semua karena pernyataan “Aku Mencintaimu” tidak terbukti.

“Aku Mencintaimu” bukan sekedar kata atau ucapan,
Tetapi lebih lagi tentang pernyataan jiwamu..
Jalan hidup tak selalu lurus, kadang berliku bahkan menanjak..
Tapi di situlah ujian mencinta,
Dimana cinta dibuktikan dalam situasi-situasi sulit.
Dan hati menemukan rumahnya..
Hidup bahagia sebahagianya..
Ikhlas seikhlasnya..
Cinta secintanya..
Hingga tak ada tempat di hati bagi yang lain..
Karena cinta adalah cinta.

(By : Sipe 2006)

Syair-Syair



كُلُّ مَنْ يَهْوَى وَاِنْ عَالَتْ بِهِ     رُتْبَةُ الْمُلْكِ لِمَنْ يَهْوَاهُ تَبَعْ

“Setiap orang yang dilanda cinta, walaupun tinggi derajatnya seperti raja, dia akan patuh (tunduk) pada orang yang dicintainya”.
اُحِبُّكَ لَا اَرْجُوْ بِذَلِكَ اَمْوَالًا     وَلَا اَرْتَجِىْ ثَوَابًا وَاَنْتَ مُرَادٌ

“Aku mencintai kamu, aku tak berharap apapun darimu, baik harta ataupun pakaian. Yang ku harapkan hanya engkau semata”.
اَوَّلُ الْمَطَرِ الْقَطْرُ    وَاَوَّلُ الْحُبِّ الْنَّظَرُ

“Permulaan hujan adalah gerimis, dan permulaan cinta adalah pandangan pertama”.
مَنْ اَحَبَّ شَيْئًا كَثُرَ ذِكْرُهُ

“Barangsiapa mencintai sesuatu, maka ia akan sering menyebutnya”.
وَاَنْ يَكُوْنَ ذِكْرٌ اَكْثَرَ حَالِهِ    وَسُرُوْرُهُ بِكُلِّ مَا هُوَ فَاعِلٌ

“(Sebagian dari tanda cinta) sering menyebut-nyebut kekasihnya, dan selalu senang dengan apa yang dilakukannya”.
مِنْهَا اَنْ يَخْتَارَ بِالْحَبِيْبِ مُجَالِسًا    عَمَّنْ سِوَاهُ وَاِنْ اَلَحَّ الْعَاذِلُ

 “Sebagian dari tanda cinta adalah selalu memilih duduk berdua dengan sang kekasih daripada dengan orang lain, walaupun orang lain mencelanya”.