Welcome to My Blogger

Welcome to My Blogger. Enjot it!

Rabu, 22 April 2015

Aku baru sadar begitu bodohnya aku dihadapan dia.
Aku terlalu menyombongkan diri, aku masih belum bisa melihat ke bawah. Kenapa aku slalu melihat ke atas? Astaghfirullahal ‘adziim..
Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu, termasuk apa yang ada di dalam hati seseorang. 
Kadar keimanan yang menentukan adalah Allah, bukan aku ataupun orang lain.
Begitu munafik dan sombongnya aku menilai pribadi seseorang dengan begitu mudahnya, padahal aku sendiri adalah orang yang begitu rendah. Ighfirlii Ya Robbi
Aku memang egois, yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tidak bisa memahami apa yang ada di lingkungan sekitar.
Tuhaan, bimbinglah hamba-Mu ini ke jalan yang lurus, shirothol mustaqim,
Robbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab.

#Jamilna binafsika,  mas…

Kamis, 09 April 2015

Wanita

Pada dasarnya semua wanita memang matre. Gak ada wanita yang mau diajak susah.
Bahkan untuk mencari calon suami pun, seorang wanita akan tetap melihat materi yang dimiliki oleh kekasihnya, minimal dia mempunyai penghasilan tetap.
Laki2 yang sedang menempuh jalur pendidikan masih bisa dimaklumi jika belum memiliki penghasilan, karena dia disibukkan dengan berbagai kegiatan di sekolah/kampus. Dan akan menjadi kelebihan ketika seorang laki2 sudah memiliki penghasilan sedangkan dia masih menempuh jalur pendidikan. Subhanallah ..
Namun, terkadang aku bertanya-tanya, bagaimana dengan seorang laki2 yang tidak menempuh jalur pendidikan sedang dia tidak bekerja juga. Apa yang dia lakukan selama ini? Hanya makan dan tidur saja? Na’udzubillah min dzalik.
Seorang pria harus pandai dalam mengatur waktunya, karena kelak dia akan menjadi kepala keluarga. Dia harus bisa me-manage antara ibadah, bekerja, dan bersantai ria.
Bahkan ada yang pernah mengatakan “termasuk sesuatu yang memalukan apabila ada seorang pria tidak sekolah/kuliah dan dia tidak bisa sukses”. Kata2 ini memang bisa dibenarkan, karena waktu yang seharusnya dia gunakan untuk menempuh jalur pendidikan itu bisa digunakan untuk bekerja. Jadi orang yang tidak sekolah/kuliah juga bisa sukses dengan usahanya sendirinya.
Marii, kita wujudkan mimpi kita sejak kecil dulu, entah itu menjadi polisi, dokter, pilot, guru atau yang lainnya. Yang pasti jangan pernah lelah untuk mencita-citakan sesuatu. Jangan pernah lelah untuk menggapai cita-cita kita. Jangan pernah lelah untuk berusaha. Gantungkan cita-cita tepat 5cm di depan mata kita! Jika saat ini kita bekerja keras, insyaallah kelak kita akan duduk manis menuai hasil yang telah kita perjuangkan selama ini. Amiiinn amiinn Ya Robbal ‘alamiinn.


Senin, 29 Desember 2014

Orang tuaku, Teladanku
v Kedisiplinan. Sejak masih kecil, aku sudah dididik agar selalu disiplin dalam melakukan kewajiban, salah satunya adalah melaksanakan shalat 5 waktu. Ketika adzan sudah berkumandang, ayah selalu mengajak ibu dan anak-anaknya agar segera menunaikan shalat wajib. Maka seketika itu juga, kami langsung pergi mencari air wudhu.
v Hemat. Orang tuaku selalu menerapkan prinsip itu dalam kehidupan sehari-hari. Mereka membeli sesuatu yang hanya dibutuhkan saja.
v Dermawan. Dalam keadaan apapun, orang tuaku bersikap dermawan kepada siapapun, baik itu saudara, tetangga ataupun kepada orang asing. Kita dapat memberikan sebagian rizki yang kita punya, tidak harus berupa uang, tetapi dapat berupa makanan atau barang.
v Keadilan. Ayah dan ibuku selalu bersikap adil kepada anak-anaknya, mereka memberikan kasih sayang yang sama, tanpa pilih kasih.  Mereka juga bersikap adil kepada siapapun yang ada di sekitarnya, seperti kemarin ketika di rumahku ada acara peringatan 1000 hari nenekku. Ayahku membagi harta dengan adil kepada saudara-saudaraku, meskipun mereka itu sudah sukses dari segi ekonomi. Tetapi itulah yang aku segani dari kedua orang tuaku, mereka tidak pernah pilih kasih kepada siapapun.
v Cinta yang tulus. Ayah dan ibuku memiliki cinta dan kasih sayang yang tulus antara satu dengan yang lain. Meskipun mereka sudah tua, tetapi cinta, kemesraan, dan perhatian masih tetap terjaga sampai saat ini. Bahkan di sela obrolan yang ada, mereka masih mengeluarkan celotehan-celotehan lucu. Itulah salah satu bumbu penting yang harus dikonsumsi oleh pasangan suami istri di dunia. J
v Keramahan. Memiliki sifat ramah memberikan manfaat yang sangat banyak. Salah satu diantaranya adalah bisa memiliki relasi yang banyak. Orang tuaku selalu bersikap ramah kepada siapapun, bahkan mereka juga sering membantu orang lain yang membutuhkan bantuan, baik berupa materi ataupun tenaga/jasa. Dari itu semua, kedua orang tuaku memiliki relasi baik dengan orang banyak. Dan ada satu hal yang baru ku sadari, rizki keluarga kami dapat berasal dari relasi-relasi tersebut. Berkah dari sebuah kebaikan.
v Kebersihan & Kerapian. Dalam berpakaian, kedua orang tuaku tetap mengutamakan kebersihan & kerapian. Bahkan ketika menunaikan ibadah shalat, ayah dan kakak-kakakku juga memakai pakaian yang sopan, seperti baju panjang, sarung, dan peci. Walaupun mereka memakai kaos pendek, tetapi tetap dilapisi baju panjang. Suatu keistimewaan ketika kita akan menghadap sang Khaliq dengan mengenakan pakaian rapi, sopan, dan bersih.
v Religious. Ayahku adalah seorang kepala keluarga yang religious atau bisa dibilang agamanya cukup kuat, karena beliau memiliki beberapa dzikir yang diamalkan. Dan di pagi hari, setelah shalat subuh, beliau menonton TV, yang mana acaranya adalah seputar pengajian di pagi hari (mamah dedeh, ustadz2 terkenal) yang ditayangkan di stasiun televisi. Dari acara itu pula, beliau mendapat tambahan wawasan ilmu seputar agama Islam. Subhanallaah..
v Bekerja keras. Demi keluarga tercinta, kedua orang tuaku rela berjemur di bawah terik matahari  supaya mereka mendapatkan rizki. Dari kerja keras tersebut, mereka dapat membeli sesuap nasi serta untuk membiayai aku dan kakak-kakakku dalam menuntut ilmu. Mereka tak pernah menyerah dalam hal mencari nafkah ini.

Begitu banyak hal penting yang dapat aku pelajari dari mereka. Mereka berdualah panutanku setelah Nabi Muhammad, para ulama di dunia ini. J

Rabu, 17 Desember 2014

Bosan, hambar,  garing.
Mungkin itulah yang aku rasakan saat ini. Aku tak tahu apa penyebab dari itu semua. Akhir-akhir ini kurasa hubungan kedekatanku dengannya terasa sangat hambar. Topik Pembahasan kami sudah tidak menarik, hanya itu-itu saja, sehingga terkadang aku merasa tidak harus membalas sms-nya ketika sudah tak ada topic pembicaraan lagi. Aku lebih memilih diam.
Kata salah seorang temanku, “merasa hambar atau bosan dalam sebuah hubungan itu sudah biasa. Besok2 juga akan membaik lagi.” Ya, mungkin memang seperti itu.

Maafkan aku beb, aku tak bermaksud menyakitimu. Jahatkah aku?  -_- 

Rabu, 19 November 2014

Sebuah Keajaiban


Tibalah hari itu, tanggal 13 – 14 November 2014. Hari dimana aku akan menjalankan ujian TOAC (TOEFL) dan ujian IKLA (TOAFL). Aku tak tahu apa yang harus dilakukan jika aku tidak dapat menjawab semua soal yang akan diujikan. Modalku sangatlah menipis. Mungkin bisa saja aku ini sombong, karena ketika temanku sedang rajin-rajinnya belajar untuk persiapan ujian, aku malah santai2 tanpa persiapan sedikit pun. Dan itu aku lakukan ketika akan melaksanakan ujian IKLA. Ya, aku merasa bahasa arab itu lebih mudah daripada bahasa inggris. Bukannya sombong, tapi emang itu yang aku rasakan :D
Kamis, 13 November 2014 Pukul 07.40 WIB aku sudah sampai di lokasi ujian, tetapi 08.30 WIB ujian baru dimulai. Sebelum ujian dimulai, aku kirim fatihah dulu ke Nabi Muhammad SAW, Bapak KH Asyhari Marzuqi, Ibunda Nyai H. Barokah Nawawi, dan kedua orang tuaku, Summary dan Rofi’ah. Sambil menunggu season fahmul masmu’ (listening) selesai, aku melantunkan shalawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW hingga soal itu pun aku kerjakan satu persatu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10. 24 WIB, pertanda waktu tinggal 6 menit lagi, padahal masih ada banyak soal yang belum aku kerjakan. Alhasil, aku memutuskan untuk melingkari seluruh lembar jawaban yang masih kosong dengan opsi B pada soal IKLA dan opsi C pada soal TOAC. Namun, ketika tanganku sedang bekerja melingkari jawaban tersebut, mulut dan hatiku ikut melantunkan shalawat atas Nabi. Aku yakin jika Allah akan membantuku. Aku hanya bisa pasrah.
Tanggal 18 November 2014. Aku mendapat kabar dari temanku kalau hasil test TOAC dan IKLA sudah keluar, maka aku pun memutuskan untuk melihat hasil test. Tetapi sebelumnya aku sudah menyiapkan segala mentalku kalau aku tidak lulus. Karena jika dilihat dari proses aku mengerjakan soal kemarin, aku sudah sangat pesimis.
Tetapi keajaiban itu datang menghampiriku. Alhamdulillahirobbil ‘alamin… hasil test TOAC & IKLA-ku di atas batas minimal. TOAC dengan skor 430 dan IKLA mendapat skor 460. Aku LULUS. Aku LOLOS. Ahhh, suatu kebahagiaan tersendiri aku bisa mendapatkan skor sebesar itu. Sungguh, tak ku sangka.
Setelah melihat hasil pengumuman itu, senyum di bibirku tak bisa berhenti. Aku sangat bahagiaaa..
Terima kasih untuk bapak-ibu, kedua kakakku, dan teman-temanku yang telah membantuku dalam do’a. Thank you very much :*
Kata pepatah, “Orang pintar kalah dengan orang bejo.”  Sungguh beruntunglah orang-orang yang bejo itu.

Kamis, 30 Oktober 2014

Menunggumu (Real)


Adzan maghrib sudah berkumandang, adzan isya’ sudah berkumandang, lampu dan pintu masjid pun sudah ditutup. Maka, aku langsung berpindah ke kursi depan toko barbershop.

Satu jam berlalu…

Dengan posisi duduk bersila dan memangku ransel yang aku bawa, aku masih tetap menunggunya.
Merasa bosan, aku pun berinisiatif untuk mendengarkan radio di HP. Mencari music yang enak untuk didengarkan.

Dua jam sudah berlalu…

Tiba-tiba air mataku keluar. Ah, aku juga tak tahu kenapa bisa keluar. Mungkin aku takut sendirian, takut dia tidak bisa menemuiku di tempat asing itu. Atau aku terlalu lelah menunggu. Berbagai fikiran negative sudah menggelayuti otakku.
Aku tak tahu bagaimana nasibku jika dia tidak menjemputku. Duduk termenung layaknya orang yang kehilangan arah jalan pulang.

Pukul 20.15

Dia datang dengan senyumnya yang merekah. Senyum yang mengandung makna bahagia dan lega, karena seseorang yang disayanginya baik-baik saja.
Alhamdulillah... masa “menunggu” itu sudah berakhir.

Menunggu adalah suatu pekerjaan yang tidak menguras tenaga, tapi menguras hati dan fikiran kita. 

Rabu, 08 Oktober 2014

Apa itu cinta?

Cinta adalah tentang kasih sayang. Dengan sendirinya, kita akan memberikan perhatian yang lebih kepada pasangan kita. Memberikan rasa sayang yang berbeda dibanding kepada teman-teman lainnya.

Cinta adalah tentang ketulusan dan keikhlasan. Kita dapat menerima dengan ikhlas segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita masing-masing, memberikan rasa yang kita miliki tanpa mengharap imbalan apapun. Mengenai rasa kita dibalas oleh pasangan, maka itu adalah bonus terindah dan harus disyukuri oleh setiap insan.  

Cinta adalah tentang hati nurani. Kita dapat mencintai seseorang karena hatinya, bukan karena bentuk fisiknya. Bentuk fisik hanyalah sekumpulan daging yang tersusun rapi, dan lama-lama daging tersebut akan berkerut sehingga tidak terlihat segar lagi. Berbeda halnya, ketika cinta yang dilandasi dengan kecocokan hati, maka cinta tersebut tidak akan berkerut, justru sebaliknya akan semakin segar dan subur sepanjang masa.

Cinta adalah tentang kepercayaan. Percaya terhadap pasangan merupakan hal pokok yang harus dimiliki dalam sebuah hubungan percintaan. Tanpa adanya kepercayaan, suatu hubungan tidak akan berjalan dengan harmonis, yang ada hanya pertengkaran dan selalu su’udzon kepada pasangan.

Cinta adalah tentang kenyamanan. Berada di dekat pasangan, kita dapat merasakan kenyamanan yang berbeda. Nyaman di genggaman tangannya dan nyaman berada di belakangnya. Bahkan ketika sedang dilanda ketakutan, dengan berada di dekatnya saja kita sudah merasa dilindungi, dan di dalam hatinya dia akan berkata “tenang sayaang, kamu gak perlu takut. Ada aku disini yang akan selalu melindungimu”. 

Cinta adalah tentang kerinduan. Setiap hari kita merasakan rindu kepada pasangan kita, yang ada di fikiran hanya ‘kapan bisa bertemu lagi?’ Ketika sudah bertemu pun rindu itu datang lagi. Tetapi jika rindu itu tidak terobati, maka akan sangat menyiksa diri kita sendiri. Bahkan ketika sudah tidak kuat menahannya, hanya air mata yang akan berbicara. Sungguh sangat menyiksa, tetapi itulah esensinya. Cinta tanpa disertai dengan kerinduan maka akan terasa hambar.   

Cinta adalah tentang masa depan. Cinta tanpa disertai keinginan untuk hidup bersama sampai akhir hayat bukan cinta yang sesungguhnya, itu hanyalah cinta sesaat. Saya tidak mengerti apa yang ada di dalam fikiran orang-orang yang hanya menganggap cinta sebagai suatu trend . Mereka terlalu mudah untuk berganti pasangan, putus dengan yang satu langsung nyambung dengan yang lainnya. Bahkan yang lebih parahnya lagi, para playboy/playgirl  yang mempunyai beberapa pasangan dalam satu waktu.  Sungguh sangat memprihatinkan jiwa pemuda-pemudi Indonesia yang seperti itu. Apakah mereka tidak berfikir, bagaimana jika ibu/adik-adik mereka diperlakukan seperti itu? Apakah mereka masih tetap tega? Na’udzubillah min dzalik..

Cinta adalah tentang segalanya. Kita akan memberikan yang terbaik untuk pasangan. Kita akan selalu membuat dia tersenyum bahagia.  Kita tidak akan tega jika pasangan kita sedang dilanda kesulitan. Dan kita tidak akan membuat dia terluka/sakit hati lagi.

Suatu anugerah terindah, ketika cinta yang sudah kita jalin bersama pasangan akan berakhir dengan bahagia. Memulai hidup baru sebagai pasangan suami-istri. Segala pekerjaan yang kita lakukan dalam sebuah ikatan keluarga akan dinilai ibadah yang agung. Subhanallah..  

Seperti itulah saya memaknai arti dari kata ‘cinta’. Mungkin ketika sudah berumah tangga, makna tersebut akan lebih dalam lagi. J