Keluarga ini
mulai aku bangun sejak tanggal 14 Juli 2014, bertepatan dengan dimulainya KKN
UIN Sunan Kalijaga Angkatan 83. Sebelumnya, aku dan teman2 kelompokku ditujukan
ke daerah Panggang, Gunungkidul, tapi tak tahu kenapa beberapa hari sebelum
pemberangkatan kami dipindahkan ke Kemirikebo, Girikerto, Turi, Sleman. Awalnya
kami cukup kecewa dengan pemindahan tempat tersebut, karena sebelumnya kami
sudah mempersiapkan beberapa strategi ketika kami sudah tinggal di sana. Selain
itu, kami juga mendapat sedikit desas-desus kalau di daerah Turi ada banyak
anjing dan pohon salak. Nah, banyak yang bilang kalau di pohon salak itu tempat
berkumpulnya makhluk dunia lain. Ulalaaaaa,, sudah pasti aku agak merinding
juga lahh. Tapi tak apa, pasti ada hikmah di balik itu semua.
Pengabdian ke
Dusun Kemirikebo pun dimulai.
Melalui
kegiatan ini, aku dipertemukan dengan beberapa teman baruku yang berjumlah 7
orang. Dari itu semua aku tidak mengenal 1 orang pun, yang ada hanya wajah2
baru. Yang pertama, Siti Lathifah, asalnya Cilacap, dia lucu, baik, cerdas, kalau ngomong ceplas-ceplos,
kadang-kadang malesan, galak, mikiran, putih, tapi agak gemuk. Hehehe. Yang
ke-2, Siti Khozamah, bu bendahara kita, asalnya dari Ciamis, ngapak gitu
deh. Orangnya tinggi, baik, manis, kurus, dan sering telfonan sm pacarnya. Huh,
marai iri wae. Yang ke-3, Putri Rahmayani, ini cewek blesteran, Padang-Bali,
tapi tinggalnya di deket Pondok Krapyak. Tante galak ini tinggi, cantik,
itemnya elegan, dan badannya berisi banget. Hahaha. Kmudian yang ke-4, Mas Wasis
Purbo Waseso. Kenapa aku panggil mas? soalnya dia angkatan tahun 2010. Masnya
baik banget, pendiam, dewasa, agak item. Hehehe. Oya, asalnya dari Pulau
Bangka. Teman KKN yang ke-5, Aziz Nur Rohman berasal dari Magetan, Jawa Timur.
Orangnya sih baik, tapi gak tegaan, jadi kurang gregetnya, hahaha. Selama KKN
tubuhnya tambah subur, gendut broo. Sukses tenan KKN e. Selamat pak ketua!
Teman yang ke-6, Nur Fatimah Ummahatul Azizah, cewek ini blesteran juga,
Lampung-Magelang-Jambi. Orangnya cantik, manja tapi fikirannya dewasa, kalau
dilihat-lihat kayaknya dia itu lebih pendek dari aku, tapi setelah dibuktikan
dia lebih tinggi 1cm dari aku. Aihh, aku tertipu. Teman gue yang ke-7 adalah
Risahlan Rafsanjani, dia satu fakultas sama aku. Cowok ini berasal dari Nusa
Tenggara Timur, ya item manis gitu, tapi tanggung jawabnya lumayan gede juga. Acungan
1 jempol buat dia dahh. J
Hari demi
hari, hubungan kita semakin membaik. Terdapat beberapa kecocokan di antara
kami. Ada banyak peristiwa yang sudah kami alami, salah satunya keberadaan alam
gaib. Dulu sebelum KKN, aku belum mempercayai sepenuhnya mahkluk2 gaib (hantu,
jin, iblis) tetapi melalui kegiatan kampus ini, aku dipaksa untuk percaya akan
hal-hal seperti itu. Dari ke-7 temanku, ada 2 orang yang dapat melihat makhluk2
seperti itu, dan yang 1 hanya bisa merasakan. Melalui mereka lah, aku bisa
mempercayainya. Dan ada 1 pihak lagi di Panti Asuhan Asy-Syafi’iyah, yaitu
bapak Imam Syafi’i, beliau adalah pengasuh panti dan pondok itu.
Beberapa hari
menjelang lebaran, ada kejadian yang membuatku cukup takut. Salah satu temanku
di ru’yah oleh pak Imam, maka saat itu pula aku mulai mempercayai hal-hal gaib
seperti itu. Aku tidak perlu menceritakan bagaimana kejadian detailnya, yang
pasti cukup mengerikan juga. Alhamdulillah, aku tidak diberi kesempatan bisa
melihat makhluk2 gaib itu, karena ketika aku sudah mengetahui seperti apa
bentuknya, mungkin aku akan ketakutan setiap saat. Hehehe
Kemudian, ada
1 hal lagi yang aku takutkan ketika berada di Kemirikebo, yaitu anjing. Hahaha
mungkin kalian akan tertawa kenapa aku bisa takut sama anjing. Saat itu, aku
sedang memberi makan buat bebek tetangga, ada anjing di depanku. Aku bingung
harus bagaimana. Secara spontan, aku langsung memanggil mas wasis.
“Mass Wasiiiiisssss,
maaasss,,, mas wasiiiisssss,,” yang dipanggil mas wasis, ee yang keluar malah
latifah, mungkin dia penasaran kenapa suaraku begitu keras dan ketakutan. Tepi
beberapa detik kemudian, mas wasis ikut keluar melihat keadaanku. Mereka berdua
bingung,
“piee miiii,
ono opoo? “
“hehehehee,,
iki mass,, ono anjing”
“hahahaahahahaaaa”
secara spontan mereka pun tertawa. Dan setelah itu, anjingnya pergi.
Aku tak tahu
kenapa aku bisa begitu takut dengan anjing. Padahal dulu aku liat anjing biasa
aja.
Selain mereka
berdua, ada 1 orang lagi yang mengetahui ketakutanku. Terima kasih atas
bantuannya :*:*
Oh iya, aku lupa
menceritakan bapak-ibu induk semang kita. Alhamdulillah sekali, di dusun ini
kami mendapat kesempatan bisa mengenal keluarga Bapak Poniman dan Ibu Fitri. Mereka
sangat baik kepada kami. Rizkinya juga sangat lancar, karena shadaqah mereka
juga sangat lancar. Bahkan, kami sampai bingung harus membalas dengan cara apa
atas semua kebaikan yang telah mereka berikan kepada kami. Kami akan sangat
merindukan mereka, apalagi kepada anak-anaknya, Novita yang cantik, baik dan
dewasa, serta kepada Keisya yang ganteng, lucu, cakep, gemesin, cool, dan
imut2. I miss you all. :*
Hubungan kami
dengan keluarga bapak Poniman berbanding terbalik dengan masyarakat. Pada bulan
pertama, hubungan dengan masyarakat masih seperti orang asing, kami hanya
menyapa sekedarnya saja ketika bertemu dengan warga. Sungguh sangat
mengenaskan. Mengenai hal itu, kami mendapat wejangan dari salah satu warga di
dusun itu, kalau warga Kemirikebo itu “susah-susah gampang”. Malam itu, kami
benar2 tertampar dengan beberapa komentar dari mbaknya, tetapi kami juga diberi
masukan supaya kami bisa mendapatkan hati masyarakat. Ya, memang salah besar
ketika kami lebih mementingkan program daripada hubungan sosialisasi dengan
warga sekitar. Seharusnya kami harus mendapatkan hati warga dulu, sehingga
ketika kami mau mengadakan program2, warga akan menyambut dengan bahagia. Tetapi
tak apa, msih ada waktu untuk memperbaiki itu semua. Masih ada waktu seminggu
untuk mendapatkan hati warga Kemirikebo. Maka setelah malam penuh penyesalan
itu, kami memanfaatkan waktu seminggu yang tersisa untuk mendapatkan hati
msyarakat. Alhamdulillah, kami berhassil. Saat perpisahan KKN kemarin tanggal 07
September 2014, banyak warga yang datang dan antusias dengan acara kami,.
Bahkan pemuda yang dulunya sangat membenci kami, kini mereka menyambut kami
dengan baik.
Tiba saatnya
ketika kami harus berjabat tangan dengan warga2 Kemirikebo. Suasana malam itu
sangat mengharukan. Tanpa skenario, air mata kami mengiringi sungkem2 kami
kepada warga. Air mata kesedihan, karena kami harus berpisah dengan ibu-ibu,
pemuda-pemudi, bapak-bapak Kemirikebo serta berpisah dengan teman2 KKN. Air
mata bahagia, karena kami masih diberi kesempatan untuk bisa berkumpul dan
berjabat tangan serta minta maaf dengan mereka semua. Air mata penyesalan,
kenapa kami baru bisa dekat dengan mereka di minggu terakhir kami mengabdi. Sungguh,
kami sangat senang bisa dekat dengan mereka semua tanpa adanya rasa dendam
diantara kami. Aku akan sangat merindukan warga Kemirikebo. Kalian adalah
keluarga ketigaku setelah keluarga di rumah dan keluarga di pondok. Semoga
hubungan silaturrahim kami dengan warga di sana masih dapat terjalin kuat. Dan Kami
masih diberi kesempatan untuk datang berkunjung ke warga2 sana. Amiiinn
Tetapi ada satu
hal yang sangat mengganjal di hati. Mayoritas masyarakat menilai kalau ending
dari KKN ini sangat bagus, tetapi sebenarnya hubungan intern kami cukup
mengenaskan. -_-
Semoga KKN
berikutnya, tidak akan mengalami kejadian yang sama. Amiinn
Tiba saatnya,
saya kembali ke habitat asal, kembali ke Kota Jogja. Polusi - panas – keramaian.
Suasana ini sangat bertolak belakang dengan suasana di Dusun Kemirikebo, 8 km
dari puncak Merapi. Tandanya, aku harus beradabtasi lagi. Fighting!